Sondag 30 Junie 2013

sekilas tentang melayu muda dan melayu tua



1.            Sekilas tentang Melayu Muda dan Melayu Tua
Suku Bangsa Melayu yang terdapat di Indonesia dalam proses menetapnya dibedakan menjadi dua yaitu
1. Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu)
2. Bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu)
      Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) adalah rumpun bangsa Austronesia yang datang kali pertama di Indonesia sekitar 2000 tahun SM. Kedatangan bangsa Austronesia dari daratan Yunan menuju Indonesia menempuh dua jalur berikut:
1. Jalur Utara dan Timur
2. Jalur Barat dan Selatan
     1. Jalur Utara dan Timur melalui Teluk Tonkin menuju Taiwan (Formosa), Filipina, Sulawesi, dan Maluku dengan membawa kebudayaan kapak lonjong.  Persebaran periode Proto Melayu ini membawa kebudayaan batu baru/Neolithikum.
2. Jalur Barat dan Selatan  melalui Semenanjung Malaka, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Nusa Tenggara dengan membawa kebudayaan kapak persegi. Persebaran periode Deutro Melayu ini membawa kebudayaan logam. Bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu) adalah rumpun bangsa Austronesia yang datang di Indonesia pada gelombang kedua terjadi pada sekitar 500 tahun SM. Bangsa Melayu Muda datang ke Indonesia melalui jalur barat, yakni berangkat dari Yunan, Teluk Tonkin, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaka, dan kemudian menyeberangi Selat Malaka hingga sampai di Kepulauan Indonesia Penyebaran manusia purba di Indonesia tidak berlangsung dalam satu tahap. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ditemukan, kedatangan manusia purba di indonesia berlangsung tiga tahap yaitu zaman mesolithikum, zaman neolithikum, dan zaman perundagian.Zaman Mesolithikum terjadi gelombang masuk manusia purba melonosoid dan daerah teluk tonkin, vietnam, melalui jalur fhilipina, malaysia dan indonesia. Sisa keturunan bangsa melonosoid yang masih ditemukan, antara lain orang sakai di siak, orang aeta di filipina, orang semang di malaysia, dan orang papua melonosoid di Indonesia Zaman Neolithikum (200 SM Terjadi perpindahan manusia purba dari rumpun bangsa melayu tua (proto melayu) dari daerah Yunan, China, melalui jalur semenanjung malaya, indonesia, filipina, dan formosa. Kebudayaan Neolithikum, khususnya jenis kebudayaan kapak persegi dan kapak lonjong. Zaman Perundagian terjadi perpindahan manusia purba dari rumpun bangsa melayu muda ( deutero melayu ) dari daerah teluk tonkin, vietnam ke daerah daerah di sebelah selatan vietnam, termasuk indonesia. Bangsa ini merupakan pendukung kebudayaan perunggu, terutama kapak corong nekara , moko, bejana perunggu, dan arca perunggu. Kebudayaannya sering disebut kebudayaan Don son karena berasal dari donson (teluk Tonkin)(www.google.com).
Melayu pra-tradisional dipersepsikan dan di alamatkan kepada komunitas masyarakat asli (indegeneous people) yang menjadi kaum perdana Melayu. Mereka selalu disebut sebagai” masyarakat pedalaman”. Atau malah disebut sebagai” masyarakat asing. di Riau hari ini terdapat komunitas orang asli saat ini yakni: Orang Sakai, Bonai, Talang Mamak, Petalangan, Hutan, Akit, Retas dan Orang Laut. Mereka secara antropologi dimasukkan dalam golongan proto-Melayu. Sebaran pemukiman mereka sebagian besar berada di pinggir-pinggir anak sungai hutan-hutan lebat dan di tepi pesisir pantai berlatar belakang hutan pulau dan pantai. Dilihat dari pencapaian kebudayaan, mereka dikategorikan sebagai kaum “ more traditional”. Sebagian besar bentukan kerukunan, keluarga batih merujuk pada model keluarga besar perbatinan”(Yusmar Yusuf dan Erlina, 2009:35).
2.         Perbedaan Melayu Tua dan Melayu Tua
Bangsa Melayu Tua ini memiliki kebudayaan batu sebab alat-alatnya terbuat dari batu yang sudah maju, yakni sudah dihaluskan, berbeda dengan manusia purba yang alatnya masih kasar dan sederhana. Hasil budaya mereka dikenal dengan kapak persegi yang banyak ditemukan di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Adapun kapak lonjong banyak digunakan mereka yang melalui jalan utara, yakni Sulawesi dan Irian. Menurut penelitian Von Heekern, di Kalumpang, Sulawesi Utara telah terjadi perpaduan antara tradisi kapak persegi dan kapak lonjong yang dibawa orang Austronesia yang datang dari arah utara Indonesia melalui Formosa (Taiwan), Filipina, dan Sulawesi.
Bangsa Deutero Melayu memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan dengan Proto Melayu. Mereka sudah dapat membuat barang-barang dari perunggu dan besi. Hasil budayanya yang terkenal adalah kapak corong, kapak sepatu, dan nekara. Selain kebudayaan logam, bangsa Deutero Melayu juga mengembangkan kebudayaan Megalitikum, yaitu kebudayaan yang menghasilkan bangunan yang terbuat dari batu besar. Hasil-hasil kebudayaan Megalitikum, misalnya, menhir (tugu batu), dolmen (meja batu), sarkofagus (keranda mayat), kubur batu, dan punden berundak. Suku bangsa Indonesia yang termasuk keturunan Melayu Muda (Deutero Melayu) adalah suku Jawa, Melayu, dan Bugis



Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking