Maandag 17 Junie 2013

proses bimbingan konsling



PROSES KONSLING, TEKNIK-TEKNIK KONSELING,
LANGKAH-LANGKAH KONSELING
Nama: Abdul rosyid
NPM : 116210117

A.      Proses Konseling
Cormier & Hackey (dalam Gibson & Mitchell, 1995:143) mengidentifikasi empat tahapan proses konseling yakni membangun hubungan, identifikasi masalah dan eksplorasi,perencanaan pemecahan masalah, aplikasi solusi dan pengakhiran. Sedangkan Prayitno (1998:24) menyebutkan bahwa ada lima tahap proses konseling yakni pengantaran,penjajagan, penafsiran, pembinaan dan penilaian. Soli Abimanyu dan M. Thayeb Manrihu(1996) mengklasifikasikan konseling perorangan kepada lima tahap yang diawali daripengembangan tata formasi dan iklim hubungan konseling awal, eksplorasi masalah,mempersonalisasi, mengembangkan inisiatif, mengakhiri dan menilai konseling.Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas, terdapat kesamaan pentahapan dalam konselingperorangan. Dapat disimpulkan bahwa proses konseling perorangan dilakukan dalam limatahap yakni:
1.Tahap pengantaran
Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien Kunci keberhasilan membangunhubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling, terutama asaskerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan; dan kegiatan.Memperjelas dan mendefinisikan masalah.. Jika hubungan konseling sudah terjalin denganbaik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelasmasalah klien.
2. Penjajagan dan penafsiran
Membuat penafsiran dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksirkemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, Menegosiasikankontrak.
 3.Pembinaan
 Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.Hal ini bisa terjadi jika : Klien merasasenang terlibat dalam pembicaraan atau wawancara konseling, serta menampakKankebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapatmenunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar-benar peduli terhadap klien.
4.Penilaian
a. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling;
b. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telahterbangun dari proses konseling sebelumnya;
c. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).4. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya;
B. Teknik-teknik Konseling
Subjek sasaran bimbingan dan konseling adalah individu sebagai pribadi dengan karakteristiknya yang unik. Artinya tidak ada dua orang individu yang memiliki karekteristik yang sama. Atas dasar karakteristik pribadinya, guru pembimbing memberikan bantuan agar individu dapat berkembang optimal melalui proses pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan aktualisasi diri.. Untuk itu seyogyanya Guru Pembimbing memahami pribadi setiap individu yang dibimbing sehingga dapat melakukan tugasnya membantu siswa ke arah perkembangan yang optimal. Untuk hal ini, maka menurut Moh Surya( 1998: 4.1), Guru Pembimbing dituntut paling tidak memiliki dua kemampuan dan keterampilan yaitu : (1) Kemampuan dan keterampilan memahami individu yang dibimbing dan (2) Kemampuan dan keterampilan berupa teknik membantu individu. Dengan demikian teknik-teknik bimbingan dan konseling, mencakup teknik memahami individu dan teknik-teknik membantu individu.

1. Pemahaman Individu.
Pemahaman individu adalah merupakan awal dari kegiatan bimbingan dan konseling. Tanpa adanya pemahaman terhadap individu, sangat sulit bagi Guru Pembimbing untuk memberikan bantuan karena pada dasarnya bimbingan adalah bantuan dalam rangka pengembangan pribadi. Adapun hal-hal yang perlu dipahami dari seorang individu dalam rangka pelaksanaan bimbingan dan konseling, adalah sebagai berikut :
a) Identitas diri, yaitu berbagai aspek yang secara langsung menjadi keunikan pribadi;
b) Kondisi jasmaniah dan kesehatan;
c) Kapasitas ( umum/Intligensi dan khususatau bakau) dan kecakapan;
d) Sikap dan minat;
e) Watak dan tempramen;
f) Cita-cita sekolah dan pekerjaan.Aktivitas sosial;
g) Hobi dan pengisian waktu luang;
h) Kelebihan atau keluarbiasaan dan kelainan-kelainan yang dimiliki;
i) Latar belakang keluarga siswa.
2. Sumber Data Untuk Pemahaman Individu
Pemahaman individu siswa dapat dilakukan melalui beberapa sumber yaitu :
a) Sumber pertama yaitu siswa itu sendiri yang dapat dilakukan melalui wawancara, observasi ataupun teknik pengukuran.
b) Sumber kedua, yaitu orang tua siswa dan keluarga terdekat siswa, guru-guru yang pernah mengajar dan bergaul lama dengan siswa, temannya, dokter pribadi dsb.
3. Teknik-Teknik Pemahaman individu.
Adapun teknik-teknik pemahaman individu dapat dikelompokkan menjadi teknik tes dan non tes. Teknik tes bisa membuat sendiri dan bisa pula mohon bantuan dari ahli lain yang kompeten untuk itu. Teknik tes dalam pelayanan bimbingan dan konseling dapat dikelompokkan menjadi :
1) tes intligensi,
2) tes bakat,
3) tes bakat,
4) tes/Inventory minat,
5)tes bakat dan
6) tes prestasi belajar
sedangkan teknik non tes terdiri dari :
1) observasi
2) Catatan anekdot
3) Daftar Cek( Check List).
4) Skala Penilaian( rating Scale)
5) Wawancara.
6) Angket
7) Biografi atau auto biografi
8) Sosiometri
9) Studi dokumentasi
10) Studi kasus( case study)
4. Teknik-Teknik Memberi Bantuan
Teknik memberi bantuan dibedakan menjadi dua yaitu teknik-teknik bimbingan dan teknik-teknik konseling.
1.    Teknik Bimbingan;Bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu dalam rangka mencegah dan menghindari terjadi masalah dalam kehidupannya dapat menggunakan beberapa pendekatan, yaitu :
a) Pendekatan individual, yaitu memberikan bimbingan secara individu sesuai dengan kebutuhan dan karakteristiknya.
b) Kelompok, yaitu melayani sejumlah peserta didik yang memiliki kebutuhan yang sama.
c) Klasikal, yaitu melayani peserta didik secara klas tanpa adanya pemisahan.
e) Dengan cara “alih tangan”, yaitu meminta bantuan pihak lain yang dipandang lebih competen.

            Alih tangan dapat berlangsung secara internal dan eksternal. Secara internal apabila alih tangan dilakukan pada lingkup area satu sekolah. Sedangkan eksternal apabila dialihkan pada pihak-pihak lain di luar sekolah, seperti psikoloog, dokter.
Dalam pelaksanaan bimbingan dapat menggunakan beberapa teknik, seperti : wawancara, dialog, diskusi kelompok, bimbingan kelompok, simulasi, bermain peran, demonstrasi, ceramah, karya wisata, mendatangkan nara sumber, studi pustaka dan sebagainya.
2. Teknik-Teknik Konseling.
1. Konseling Perorangan; Konseling Perorangan adalah merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang bermasalah guna mengentaskan masalahnya, demi tercapainya tujuan dan kebahagian hidupnya. Konseling perorangan dilakukan dengan wawancara interpersonal antara Guru Pembimbing dengan siswa yang dibantu. Tahap-tahapan dalam konseling perorangan
1.1 Tahap Awal; Pada tahap ini dilakukan pembinaan hubungan baik dengan siswa yang dibantu. Kontak awal antara pembimbing dengan siterbimbing akan sangat mempengaruhi wawancara konseling. Pada tahap awal ini yang perlu dilakukan adalah :
a. Penataan ruangan/fisik/mencari tempat yang kondusif
b. Sambutan dan perhatian terhadap kehadiran klien
c. Penjelasan maksud dan tujuan konseling
d. Penjelasan peranan dan tanggung jawab masing-masing
1.2 Tahap Kegiatan; Pada tahap ini si pembimbing dengan beragam ketrampilan wawancara konselingnya berupaya untuk mendorong siswa ke arah pemahaman diri dan lingkungannya dalam kaitannya denga masalah yang sedang dihadapinya.
1.3 Tahap Akhir; Tujuan tahap ini adalah agar siterbantu mampu menciptakan tindakan dan merencanakan, melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesepakatan dan pemahaman selama proses wawancara konseling berlangsung. Pada tahap ini perlu pula digali kesan siswa/klien selama proses wawancara berlangsung.
2. Teknik-Teknik Konseling Perorangan.
Secara umum dalam wawancara konseling dikenal tiga teknik atau pendekatan khusus, yaitu :
a) Direktif Konseling; Teknik ini dicetuskan oleh Edmond G. Williamson. Dengan teknik ini, proses konseling kebanyakan berada ditangan konselor. Dengan kata lain konselor lebih banyak mengambil inisiatif sedangkan klien tingla menerima apa yang dikemukakan oleh konselor
Ciri-Ciri Direktif Konseling :
a. Sebagian besar tanggung jawab dan pengambilan keputusan ada di tangan konselor.
b. Konselor menyimpulkan berbagai data, informasi, fakta mengenai masalah klien.
c. Konselor bersama klien mempelajari berbagai macam data dan informasi dalam rangka  pengambilan keputusan.
d. Klien menerima keputusan langsung dari konselor
e. Klien melaksanakan keputusan dan menyempurbnakan keputusannya.
Williamson juga menyarankan langkah-langkah dalam konseling secara berturut-turut, yaitu : analisis, sintesis, diagnosis, prognosis, treatment, follow-up.
b) Non Direktif Konseling.Teknik ini sering juga disebut “Client Centered counseling” yang memberikan gambaran bahwa yang menjadi pusat dalam konseling adalah klien. Dengan teknik ini aktivitas konseling sebagian besar ada ditangan klien. Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Carl Rogers. Ciri-ciri non directive counseling:
1.Menekankan pada aktivitas dan tanggung jawab klien.
2.Menuntut konselor untuk mengadakan hubungan secara efektif dengan klien.
3.Masalah-masalah yang dipecahkan adalah masalah-masalah actual.
4.Penekanan konseling pada sikap menerima dan memahami.
5.Klien memecahkan masalahnya sendiri melalui perasaannya sendiri.
c) Eclectic Counseling; Teknik ini dipelopori oleh F.P Robinson. Teknik ini pada prinsipnya menggunakan penggabungan antara direktif dan non direktif konseling. Konselor menggunakan kedua pendekatan secara melengkapi sesuai dengan situasi dan kondisi klien serta sifat masalah klien.. Kondisi ini menuntut bahwa seorang konselor harus fleksibel dengan keahlian yang memadai dan pengalaman yang cukup Langkah-langkah konseling ini tidak dapat dirumuskan secara jelas karena dapat saja konselor menggunakan kedua pendekatan seperti di atas secara bergantian atau secara bersama-sama sekaligus sesuai dengan sifat masalah dan kondisi klien.
3. Ragam Keterampilan Konseling :
a. Memperhatikan (Atending), dapat diartikan sebagai ketrampilan konselor untuk menjadikan siswa terlibat dan terbuka dalam wawancara konseling. Ketrampilan ini mencakup : kontak mata, bahasa badan dan bahasa verbal. Ciri-ciri memperhatikan yang baik adalah : mengangguk bila setuju, wajah tenang, ceria, senyum, posisi tubuh condong ke depan kearah siswa yang dibantu, akrab penuh humor dan variasi, gerakan tangan sifatnya spontan dan tidak kaku, mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian, sabar menunggu ucapan siswa yang dibantu hingga selesai, menunggu bereaksi pada saat yang tepat, perhatian terarah pada siswa yang dibantu.
b. Merasakan (Empati), adalah kemampuan pembimbing untuk merasakan apa yang dirasakan siswa yang dibantu, merasa dan berpikir bersama klien dan bukan berpikir dan merasa tentang klien.
c. Memantulkan kembali (Refleksi), adalah memantilkan perasaan, pikiran dan pengalaman siswa sebagai hasil pengamatan pembimbing terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.
d. Menggali (Eksplorasi), adalah tekhnik untuk menggali perasaan, pikiran dan pengalaman siswa yang dibantu. Hal ini dilakukan karena pada umumnya klien menyimpan rahasia bathin, menutup diri atau tidak mampu mengungkapkan perasaan, pikiran dan pengalaman kehidupannya secara terbuka.
e. Menangkap Pesan Utama, adalah sipembimbing agar mampu menangkap inti atau pokok permasalahan dari pernyataan-pernytaan siswa yang cukup panjang.
f. Bertanya, dalam hal ini pembimbing dalam proses wawancara konseling sebaiknya bertanya dengan kata-kata yang mampu membuka diri siswa seperti : apakah…? bagaimanakah…, adakah…,dapatkah…, dsbnya. Hindarkan penggunaan kata Tanya yang sifatnya menyelidiki, seperti : mengapa, untuk apa…
g. Dorongan Minimal, adalah suatu ketrampilan pengulangan langsung dengan singkat tentang apa yang dikatakan siswa dan selanjutnya untuk diberikan komentar singkat, seperti: oh…ya….,terus…,lalu…,dan…selanjutnya…



B.  Langkah-langkah Konseling

1.    Mengidentifikasi Kebutuhan, Tantangan, dan Masalah
Menurut Dewa Ketut dan Desak Made, langkah-langkah Mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan masalah peserta didik di sekolah terlebih dahulu diadakan Langkah Analisis, Langkah Sintesis dan selanjutnya diadakan Langkah Diagnosis, dan Prognosis. (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati,: 30). Sedangkan menurut Syahril dan Riska, menyatakan terlebih dahulu diadakan; Identifikasi Kasus, dan Diagnosis.

1.1    Langkah Analisis
Menurut Dewa Ketut dan Desak Made. Langkah Analisis “adalah langkah memahami kehidupan individu siswa, yaitu dengan cara mengumpulkan dari berbagai sumber. Dengan arti lain analisis merupakan kegiatan pengumpulan data tentang siswa yang berkenaan dengan bakat, minat, motif, kesehatan fisik yang dapat menghambat atau mendukung penyesuaian diri siswa. Alat-alat untuk keperluan analisis ini antara lain berupa; Tes prestasi belajar, Kartu pribadi siswa, Pedomana wawancara, Riwayat hidup, Catatan anekdot, Tes psikologis/Inventori, Daftar cek masalah, Angket, Sosiometri, dan Daftar cek.” (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati, : 30).

1.2    Langkah Sintesis
Menurut Dewa Ketut dan Desak Made “Sintesis adalah langkah menghubungkan dan merangkum data. Ini berarti bahwa dalam langkah sintesis peyuluhan mengorganisasian dan merangkum data sehingga tampak dengan jelas gejala-gejala atau keluhan-keluhan siswa. Rangkuman data ini haruslah dibuat berdasarkan data yang diperoleh dalam langkah analisis.” (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati, : 31).

1.3    Identifikasi Kasus
Tingkah laku seorang peserta didik yang harus dipahami oleh guru. Jikalau tingkah laku murid itu tidak seperti biasanya di dalam kelas. Maka guru harus  mencari tahu apa permasalahan yang di hadapi peserta didik. Dengan kata lain juga disebut dengan istilah identifikasi kasus. Menurut Syahril dan Riska, 1987 “identifikasi kasus yaitu usaha menemukan/menentukan siswa yang perlu mendapat bimbingan. Cara yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan ini adalah dengan jalan analisis hasil belajar, analisis karya tulis, pengisian DPM, observasi, sosiometri, dan sebagainya. (Syahril dan Riska, 1987:86).
Artinya pada langkah ini, guru mengenali gejala-gejala awal suatu masalah yang dihadapi siswa. Untuk mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang nampak, itulah yang disebut identifikasi kasus, kemudian dianalisis dan selanjutnya dievaluasi.
Di dalam situs massofa.wordpress, 2008 menceritakan seorang siswa; “Benin seorang siswa yang mempunyai prestasi belajar yang bagus, untuk semua mata pelajaran ia memperoleh nilai diatas rata-rata kelas. Dia juga disenangi teman-teman maupun guru karena pandai bergaul, tidak sombong, dan baik hati. Sudah dua bulan ini Benin berubah menjadi agak pendiam, prestasi belajarnyapun mulai menurun. Sebagai guru Bimbingan Konseling, ibu Heni mengadakan pertemuan dengan guru untuk mengamati Benin. Dari hasil laporan dan pegamatan yang dilakukan oleh beberapa orang guru, ibu Heni kemudian melakukan evaluasi berdasarkan masalah Benin dengan gejala yang nampak. Selanjutnya dapat diperkirakan jenis dan sifat masalah yang dihadapi Benin tersebut. Karena dalam pengamatan terlihat prestasi belajar Benin menurun, maka dapat diperkirakan Benin sedang mengalami masalah ‘kurang menguasai materi pelajaran’. Perkiraan tersebut dapat dijadikan sebagai acuan langkah selanjutnya yaitu diagnosis.” (wordpress.com, 2008).
1.4    Diagnosis
Setelah mengadakan identifikasi kasus atau dengan arti kata memperkirakan apa yang terjadi pada peserta didik, maka diadakan analisis masalah yang dihadapi peserta didik atau dengan kata lain menetapkan “masalah” yang berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah, atau disebut dengan “diagnosis.”
Di dalam situs wikipedia, “diagnosis adalah identifikasi mengenai sesuatu. Diagnosis digunakan dalam medis, ilmu pengetahuan, teknik, bisnis, dll.” (wikipedia.com). Sedangkan menurut Dewa Ketut dan Desak Made, Diagnosis adalah langkah menemukan masalahnya atau mengindentifikasi masalah. (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati,: 31). Selanjutnya Dewa Ketut dan Desak Made menjelaskan “langkah ini mencakup proses interpretasi data dalam kaitannya dengan gejala-gejala masalah, kekuatan dan kelemahan siswa. Dalam proses penafsiran data dalam hubungannya dengan penyebab masalah, peyuluhan haruslah menentukan penyebab masalah yang paling mendekati kebenaran atau menghubungkan sebab akibat yang paling logis dan rasional.” (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati,:31).
Dijelaskan oleh Syahril dan Riska Langkah diagnosis atau langkah yang kedua ini (dalam bukunya) adalah “untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan serta latar belakang masalah yang dihadapi seseorang. Berdasarkan langkah kedua inilah kita dapat menetapkan apa kira-kira masalah seseorang serta apa penyebab dari masalah tersebut.” (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:86). Selanjut Syahril dan Riska menjelaskan “Cara yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan ini adalah dengan jalan analisis hasil belajar, analisis karya tulis, sosiometri, DPM, PSKB, angket, wawancara, observasi, pertemuan kasus, dan sebagainya.
Artinya dalam langkah ini dilakukan kegiatan pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar belakang atau yang melatarbelakangi gejala yang muncul. Dalam situs massofa.wordpress, 2008 masih menceritakan kasus Benin tadi. “Pada kasus Benin, dilakukan pengumpulan informasi dari berbagai pihak. Yaitu dari orang tua, teman dekat, guru dan juga Benin sendiri. Dari informasi yang terkumpul, kemudian dilakukan analisis maupun sistesis dan dilanjutkan dengan menelaah keterkaitan informasi latar belakang dengan gejala yang nampak. Dari informasi yang didapat, Benin terlihat menjadi pendiam dan prestasi belajarnya menurun. Dari informasi keluarga di dapat keterangan bahwa kedua orang tua Benin telah bercerai. Berdasarkan analisis dan sistesis, kemudian diperkirakan jenis dan bentuk masalah yang ada pada diri Benin yaitu karena orang tuanya telah bercerai menyebabkan Benin menjadi pendiam dan prestasi belajarnya menurun, maka Benin sedang mengalami masalah pribadi.”(wordpress.com, 2008).

2.    Menganalisis Kebutuhan, Tantangan, Dan Masalah Peserta Didik
Setelah melakukan semua yang berdasarkan di atas, maka seorang konselor melakukan Prognosis, Pemecahan masalah, penilaian (evaluasi), dan tindak lanjut (follow-up).
2.1  Prognosis
Menurut Sayhril dan Riska. “Prognosis merupakan usaha untuk menelaah/mengkaji masalah yang dialami seseorang, termasuk kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul jika masalah itu dibantu, serta memperkirakan teknik atau jenis bantuan yang akan diberikan kepada orang yang mengalami masalah tersebut.” (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:86). Atau dengan kata lain menurut Dewa ketut dan Desak Made Prognosis adalah “suatu langkah mengenai alternatif bantuan yang dapat atau mungkin diberikan kepada siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi sebagaimana yang ditemukan dalam langkah diagnosis. (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati,:32).      

2.2 Pemecahan masalah/Terapi /Treatment
Menurut Syahril dan Riska, “langkah ini berupa usaha untuk melaksanakan bantuan ataupun bimbingan kepada seseorang yang bermasalah, sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan pada langkah yang ketiga (Prognosis). Usaha pemecahan ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk bantuan, antara lain layanan individual, layanan kelompok, pengajaran perbaikan, pemberian pengajaran dan sebagainya. (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:86-87).

2.3 Penilaian (evaluasi)
Menurut Syahril dan Riska, “Yaitu berupa usaha untuk melihat/meninjau kembali hasil bantuan yang telah dilaksanakan. Langkah ini dapat dilakukan dengan melihat hasil belajar siswa yang bersangkutan, observasi tingkah laku sehari-hari dan sebagainya. (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:87).

2. 4 Tindak Lanjut (Folow-Up)
Syahril dan Riska, “Yaitu berupa usaha untuk mengambil tindakan seperlunya yang akan dilaksanakan sehubungan dengan hasil penilaian yang telah dilakukan. (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:87).

3.    Mengetahui Pemberian Layanan Bimbingan.
a.    Bimbingan perorangan
b.   Bimbingan klompok.
4.Simpulan
Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat, karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. Kesan lama, Guru Pembimbing sebagai “polisi sekolah“ atau “Polisi Susila” hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat, khususnya di kalangan siswa dan guru bahkan dikalangan kepala sekolah.

Guru Pembimbing dituntut paling tidak memiliki dua kemampuan dan keterampilan yaitu :
1) Kemampuan dan keterampilan memahami individu yang dibimbing dan
2) Kemampuan dan keterampilan berupa teknik membantu individu.

Teknik-teknik pemahaman individu dapat dikelompokkan menjadi teknik tes dan non tes, sedangkan teknik memberi bantuan dibedakan menjadi dua yaitu teknik-teknik bimbingan dan teknik-teknik konseling. Teknik bimbingan secara umum dapat dilakukan dengan pendekatan individual, kelompok, klasikal dan “alih tangan” Dalam pelaksanaan bimbingan dapat menggunakan beberapa teknik, seperti : wawancara, dialog, diskusi kelompok, bimbingan kelompok, simulasi, bermain peran, demonstrasi, ceramah, karya wisata, mendatangkan nara sumber, studi pustaka dan sebagainya. Secara umum dalam wawancara konseling dikenal tiga teknik atau pendekatan khusus, yaitu :
a) Direktif Konseling,
b) Non Direktif Konseling,
c) Eklektik Konseling.






Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking