Maandag 17 Junie 2013

kumpulan puisi



Kuntum
Kuntum
Semerbak harum
Diantara ilalang gersang
Dipagi yang berembun
Riak ombak yang menderu
Dan gemuruh badai
Seolah pupus diantara semi
Namun harumnya tercium jua

Entah
Entah mengapa ku terombang ambing
Diantara kegersangan kalbu
Dan tidak kepastian
Saat kupu lekas menghampirimu

Dan aku resah
Namun jemariku tak berdaya
Tergengam berjuta harapan
Dan lekas ku abaikan

Namun
Waktupun tak lekas menghapus
Impianku yang pupus
Bahkan disetip detik baringku
Diantara kesunyian
Ia menari-nari
Seolah mengejekku
Hadir dalam mimpi-mimpi
Ataukah menanti pulas panjang
Yang ku tau pasti datang




Oleh Abdul Rosyid


Suara Hati

Disela julangan megah
Diantara kepulan asap mercy
Serta derap kilap tapak-tapak botak
Mari menoleh

Wahai kawan
Di belakang sana bukit gersang
Tersisa secerca kehidupan
Mengapa tangis pilu  masih membahana
Bergeming diantara dinding-dinding kardus

Suara hati berkata
Untuk negriku paru baya
Meratap hari tanpa kepastian
Wahai rakyat yang berduka
Menangislah untuk negri porak poranda
Desiran hati berbalut hiba

Barisan botak masih bercengkrama
Memutar poros negri
Masih sempat ia berkata
Kita akan jaya
Kita akan bahagia

Tulang belulang sirna seiring kenangan
Nisan pahlawan tertanam dalam
robekan kecil mencatat sejarah
Hari itu
Kaurelakan darah tertumpah
Guyur persada pertiwi

Namun
Kini
Mereka yang tak bernurani
Laksana rayap jarah ranting rapuh
Kikis negri

Hai
Rakyat masih terkapar dahaga
Diantara tawa-tawa istana
Matikah nurani bangsa
Oleh: Abdul Rosyid
Sunyi

Sunyi
Hatiku sunyi
Senyap diantara kelam sepi
Desah bayu  menyerusuk sulbi
Gemetar jiwaku
Entah mengapa

Oh..
Tuhan
Gema asmaMu tak pernah padam
Diatara hening kegelapan
Bergaung diantara cakrawala
Mnyerusuk kalbu-kalbu gersang
Meyemai ketandusan

Robby
Bola-bola kecil berotasi
Diantara jemari manis
Dan bibir-bibir bergumam
Dengan asma kemuliyaan
Adakah khilaf
Diantara hati-hati yang mati
Akan karuniaMu
nikmatMu

ooh
mungkin ku lekas bangun
dari koma yang panjang
dan buaian iblis jahannam
dan luh lekas bercucuran
diantara sesal yang hampir usang
saat tulang-tulang lekas rapuh
dan tubuh yang tak kukuh
adakah sebutir harapan
buat hamba penuh kehinaan
diantara dosa dan kemaksiatan.


  Oleh: Abdul Rosyid

Azan

Azan
Memecah kesunyian
Dipagi yang dingin
Bergema disetiap menara
Lekas bangkit
Dan langkah tertatih
Tongkat usang ditanganya
Semagat
Kuat
Walau gelap tak bersahabat

Azan
Sesambutan
Tiap sudut kesunyian
Subuh bergemuruh
Namun
Tak banyak yang lekas bergegas
Seolah  tuli
Ataukah mati
Mati, mati dan mati
Hati mereka
Jiwa mereka
Bergumam dengan iblis jahannam
Hanyut dalam buaian
Nafsu dan kenistaan

Wahai jiwa yang aniaya
Jiwamu di gengamanNya
Dan neraka tak kan padam
Menanti kemaksiatan
Lekaslah bangkit
Diantara seruan
Kemulyaan dan kebahagiaan
Janji tuhan kan ditunaikan
Untukmu hamba yang beriman


Oleh: Abdul Rosyid.




Tunas

Kau tumbuh
Diantara karang dan batu
Diantara perih duka
Dan masa yang lara

Tunas
Kau tunas bangsa
Terus tumbuh
Diantara parasit hina

Jangan hiraukan
Kemarau lekas meradang halang
Tanam
Tanam Akar-akarmu
Dengan perkasa
Lekas mekar
Daunmu dan menghijau

Tunas bangsa
Rimbunkan daunmu
Tuk kami berteduh
Kala mentari lekas menyegat
Dan tulang-tulang kami rapuh

Tunas
Bangsamu menanti
Dalam Penantian panjang
Dan derita lah melanda
Dalam jeruji permata
Ataukah pupus
Mimpi pejuang kami
Ataukah rela
Dengan derita papa mama
Dan airmata pujangga bangsa




Oleh: Abdul Rosyid

Tsunami

Derita, pilu dan duka
Dantang tanpa kata dan duga
Diantara nyanyian tarian riang
Sedang dalam kealfaan
Kau hancur dan musnahkan
Sedetik merubah kenyataan
Tawa jadi duka
Bahagia jadi pilu lara
Canda dengan air mata

Rata, prak poranda
Tiada sedikitpun tersisa
Jika sang maha kokoh murka
Adakah yang masih merasa milik kita ?

Tataplah panorama
Dihadapan mata
Beribu hamba tanpa nyawa
Berserak bagai barang tak da harga

Oh tsunami
Kau gulung bumi
Hanya bagai permadani
Sekejap merayap
Berjuta nyawa lesap

Oh tsunami
Maha dahsyat
Kau buat beribu ummat terperanjat
Akan kuasa yang maha kuat
Tingallah duka
Diantara hambba yang lupa
Tuk kembali pada_Nya



Oleh: Abdul Rosyid

Bintang

Bintang
Dikegelapan
Berkedip indah menawan
Menghias langit dalam kesunyian
Menghibur hati dalam kegundahan
Menemani malam dalam kesunyian

Bintang
Tinggi jauh diatas awan
Bertabur diantara keheningan
Beribu teman
Dalam formasi menyenangkan

Bintang
Bersinar terang
Tanpa lelah spanjang zaman
Bersama bayu terpa dedaunan
Bagai bait lagu para sastrawan
Indah mengalun dengan kemerduan
Menghibur insan dalam kedukaan

Bintang
Cantik kuning keemasan
Memancar bagai berlian
Menari besama riak lautan
Bercloteh dihati kepiluan
Mengundang kerinduan
Pada bunda dikejauhan
Yang selalu hadir dalam angan

Bintang
Dilangit hitam
Mengudang kehangatan
Pada hati yang gesang
Hidup di alam perantauan
Mengari ilmu di negri orang
Bekal hidup dimasa depan


Oleh: Abdul Rosyid


Dzikir

Petang meradang
Mentari lekas bersemayam
Dan camar lelap dalam buaian
Diantara pekat malam
Mengalun gemrisik dedaunan
Disudut surau tua
Dan bait-bait zikir melantun
Berdebar hati
Saat lekas terlelap
Menyusup diantara relung jiwa
Yang telah lama tandus dengan dosa
Dan rapuh oleh nista

Qolbu yang kering keronta
Alfa akan ingat tuhannya
Bergelimang angkara murka
Seolah jiwa kan selau dengan raga
Padahal Izrail tiada lena
Meradang maut dihadapan mata

Zikir
Mengalun merdu
Menyemai qolbu layu
Dan hamba
Kini lekaslah tau
Akan apa makna hidup
Sedetik adalah penentuan
Perjuangan gapai harapan
Kebahagiaan  dari tuhan
Ataukan penyesalan
Yang tiada pernah terbalaskan

Zikir
Mari berzikir
Mohon ampun atas kehilafan
Astagfirrullah, Astagfirullah
Subhanallah, Lailahaillallah.
Mari kita kembali
Pada fitrah-fitrah kita


Oleh: Abdul Rosyid
Prahara

Prahara
Diantara bukit-bukit cinta
Bagai api dalam sekam
Membrangus kedamaian
Bagai badai di kelap malam
Menghempas ketenangan
Bagai halilintar ditengah hujan
Hancurkan kesejukan

Prahara
Diantara kuntum-kuntum bunga
Bagai herbisida
Musnahkan keindahan
Bagai nuklir
hancurkan hirosima

prahara
bibit-bibit duka
diantara taman nirwana
dan bias dalam detak-detak jantung
prahara
semai diantara karang tajam
menyayat-nyayat ari
pedih, perih tiada tara

prahara
badai biduk-biduk samudra
tanpa nahkoda
hancunkan bahtera cinta
bagai bajak laut
yang tiada kata hiba
dahsyat sungguh dahsyat
bagai bara
membakar tiap jiwa
hancur ,rubuh, nirwan cinta
hanyalah puing-puing
mencatat sejarah asmara


Oleh: Abdul Rosyid


Palestina Ku Cinta

Bingkisan
Untuk sahabatku
Muslim-muslim dikatulistiwa
Dengarlah
Negri kami bersimbah darah
Beribu sahabat kami terkapar
Tanpa nyawa
Entah apa dosa kami
Begitu angkuh mereka
Tanpa ada rasa hiba
Kedamaian kami
Dikoyak  anjing-anjing lapar
Yang tak  bernurani
Kami tak mengerti
Setiap saat amunisi
Dapat melubang jantung kami

Wahai sahabat-sahabat kami
Negrikami berselimut duka
Palestina ku cinta
Mereka jarah
Bagai babi hutan
Dengan kebutaan
Tiada kenal kemanusiaan
Tangis anak-anak kami
Terkoyak jiwanya
Raganya
Entah kemana orang tua mereka
Siapa yang peduli dengan airmata
Darai sahabat yang teraniaya

Hujan mortir
Menghujam jiwa-jiwa tanpa dosa
Israil terkutuk
Butakah matamu, mata hatimu
Rakus, tama, biadab
Kau rusak mimpi-mimpi kami
Mungkin seribu tahun lagi
Untuk pulih dari mimpi

                                                                        Oleh:Abdul Rosyid

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking